Kami menggunakan cookies untuk mengumpulkan informasi mengenai bagaimana pengunjung menggunakan website kami. Cookies membantu kami untuk memberikan pengalaman terbaik kepada Anda ketika menggunakan website kami. Dengan klik tombol “Terima Cookies”, Anda setuju untuk menggunakan cookies ini.
04 November 2020
Etika Menggunakan Klakson di Jalan Raya yang Baik dan Benar
Dalam berkendara, tidak hanya harus mematuhi peraturan lalu lintas tapi juga ada etika berkendara yang patut diterapkan selama di jalan raya. Salah satunya adalah etika dalam menggunakan klakson di jalan umum.
Klakson merupakan peranti wajib yang harus ada pada sebuah mobil atau kendaraan lainnya khususnya di Indonesia dan umumnya di seluruh dunia. Kewajiban mengenai klakson ini sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan.
Klakson sendiri memiliki fungsi sebagai alat untuk berkomunikasi antara pengemudi mobil yang satu dengan lingkungan sekitarnya, baik pengendara lain maupun pejalan kaki. Melalui isyarat bunyi yang dihasilkan oleh klakson inilah cara seorang pengemudi berkomunikasi saat di jalan raya.
Nama klakson diambil dari Bahasa Yunani, klaxo yang artinya menjerit. Oleh sebab itu dalam penggunaannya pun tidak bisa sembarangan karena suara yang dihasilkan klakson ini akan cukup kencang.
Klakson pada mobil didesain dengan tingkat kebisingan tertentu, sehingga bisa digunakan untuk simbol menyapa atau peringatan. Dalam peraturan pemerintah, suara klakson ini harus dapat terdengar dalam jarak 60 meter dengan rentang bunyi paling rendah berada di 83 desibel (dB) dan maksimal di 118 dB. Di mana manusia normal mampu mendengar suara berfrekuensi 20-20.000 Hz dengan tingkat kekerasan di bawah 80 dB.
Namun, klakson bisa juga untuk menunjukkan rasa amarah atau emosi si pengendara terhadap pengguna jalan lain dan bahkan kerap memicu pertikaian antara pengendara atau pengguna jalan. Itu sebabnya dalam membunyikan klakson ini ada etikanya, tidak asal pencet terus menerus dan membuat orang di sekitar Anda menjadi terganggu.
Kapan harus membunyikan klakson
Dalam etika berkendara, untuk bisa menggunakan klakson itu Anda harus bisa memposisikan diri sendiri sebagai orang lain yang mendengar suara klakson itu. Layaknya orang yang berbicara, penggunaan klakson menunjukan tingkat kesopanan seorang pengendara dalam berkomunikasi dengan pengendara lain. Sebaiknya saat membunyikan klakson sebaiknya jangan sampai mengganggu pengendara lain.
Penggunaan klakson yang paling tepat adalah saat akan menyalip kendaraan lain. Cukup bunyikan klakson sekali atau dua kali dengan durasi pendek dan kedipkan lampu dim. Pengemudi di depan akan paham bila Anda akan menyalip, sehingga menjaga posisinya dan akan memberi jalan. Bahkan klakson juga bisa menjadi ucapan terima kasih antar pengemudi ketika sudah diberi jalan oleh pengemudi lainnya.
Anda juga bisa memberi peringatan pengguna jalan lain dengan membunyikan klakson saat melewati jalur pegunungan yang berliku atau jarak pandang terbatas. Bunyikan klakson agak panjang dua kali, biasanya kendaraan dari arah berlawanan akan membalas klakson.
Membunyikan klakson yang tidak baik adalah saat lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau, pasti Anda sering mendengar penggunna kendaraan yang langsung membunyikan klakson supaya pengendara yang ada di depan segera jalan. Secara etika itu tidak baik, seolah-olah Anda meneriaki kendaraan di depan untuk segera maju. Gunakan klakson singkat apabila kendaraan di depan Anda tidak kunjung maju padahal lampu sudah hijau cukup lama, ini akan lebih sopan.
Beda negara beda kebiasaan
Nah, penggunaan klakson ini juga tergantung pada masing-masing negara, karena beda negara berarti beda budaya dan juga kebiasaannya. Biasanya di negara-negara maju seperti negara di Eropa, Amerika, dan juga Jepang, Anda tidak akan sering mendengar suara klakson kendaraan, bahkan hampir tidak pernah terdengar. Pengemudi di negara ini sudah lebih taat pada aturan lalu lintas sehingga minim pelanggaran yang membuat pengendara lain harus membunyikan klakson sebagai isyarat.
Di negara-negara seperti itu, biasanya pengemudi hanya membunyikan klakson jika mereka sudah terlampau kesal atau marah yang berarti ada pengendara atau pengguna jalan lain yang melanggar lalu lintas.
Berbeda dengan negara seperti Indonesia yang budaya membunyikan klakson seperti sudah menjadi keharusan dan menjadi hal yang wajar. Apalagi di negara seperti India dan juga Vietnam, mungkin Anda akan pusing jika tidak mendengar suara klakson yang saling bersahutan setiap saat. Memang faktor kedisiplinan dalam berkendara dan juga tertib berlalu lintas menjadi penting, karena jika sudah tertib dan semua patuh pada aturan lalu lintas maka tidak perlu lagi membunyikan klakson di jalan raya.
Itulah yang membedakan etika dalam menggunakan klakson, jika masih banyak yang tidak tertib di jalan raya maka suara klakson kendaraan pun akan terus terdengar.
Tapi ada juga area di mana Anda tidak boleh membunyikan klakson ya, biasanya ditandai dengan rambu lalu lintas yang berupa gambar terompet dicoret. Umumnya area yang ada rumah ibadah dan juga rumah sakit akan ada rambu larangan ini.
Begitu juga ketika sudah malam hari, etikanya lebih baik tidak membunyikan klakson namun hanya cukup dengan menggunakan lampu jauh saja sebagai isyarat pengganti klakson.
Artikel Terkait

31 Agustus 2026
Frameless Panoramic Roof New Xforce: Bikin Kabin Terasa Lebih Lapang
Keberadaan fitur panoramic roof pada mobil membuat kabin terasa lebih terang dan lega. Mitsubishi New Xforce baik varian hybrid maupun bermesin bensin, saat ini sudah dilengkapi atap kaca tersebut, untuk menunjang kenyamanan dan kemewahannya. Klik di sini untuk Informasi selengkapnya...
Selengkapnya
31 Agustus 2026
Pengalaman Pakai Mitsubishi Xforce Dikira Pakai Mobil Listrik
Mitsubishi Xforce menjadi pilihan Adi Kamer Putra, seorang profesional yang menjabat sebagai Executive to President Director di salah satu perusahaan BUMN terkemuka. Bagi Adi, Mitsubishi Xforce menawarkan kombinasi desain modern, kenyamanan, teknologi, serta kemampuan yang sesuai untuk kebutuhan berkendara di perkotaan maupun perjalanan luar kota. Baca di sini...
Selengkapnya
31 Agustus 2026
Mengapa Mobil Hybrid dan ICE Paling Relevan Untuk Pasar Indonesia?
Elektrifikasi kendaraan terus berkembang di Indonesia. Namun, di tengah meningkatnya pilihan mobil listrik, kendaraan hybrid dan mesin pembakaran internal (ICE) masih menjadi pilihan yang relevan. Alasannya sederhana, karena kondisi Indonesia membutuhkan kendaraan yang praktis, fleksibel, dan bisa digunakan di berbagai wilayah. Selengkapnya baca di sini...
Selengkapnya
31 Agustus 2026
Pandangan 360, Manuver Lebih Percaya Diri dengan Mitsubishi New Xforce
Parkir atau bermanuver di area sempit menjadi lebih mudah dengan kamera 360 derajat atau yang disebut sebagai Multi Around Monitor (MAM). Fitur kamera multiarah ini sudah menjadi standar pada keluarga New Xforce, baik berpenggerak HEV maupun ICE. Selengkapnya baca di sini..
Selengkapnya
31 Agustus 2026
Mitsubishi New Xforce ICE: Pilihan Masuk Akal untuk First SUV Buyer
Memilih SUV pertama bukan sekadar soal desain. Bagi first SUV buyer, mobil ideal harus menawarkan posisi berkendara yang lebih tinggi, nyaman digunakan sehari-hari, mudah dikendarai, sekaligus tidak membuat pemilik harus beradaptasi terlalu banyak dengan teknologi baru. Informasi lebih lanjut klik di sini...
Selengkapnya











